Pengukuran kinerja adalah cara untuk mengukur berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Informasi yang didapat dari pengukuran ini digunakan untuk melihat seberapa efektif dan efisien tindakan yang diambil, serta memberikan gambaran tentang sejauh mana rencana perusahaan tercapai. Dari hasil pengukuran ini juga dapat diketahui kapan perusahaan perlu melakukan penyesuaian terhadap rencana dan kontrol yang sudah dibuat.
Pengukuran kinerja bertujuan untuk beberapa hal. Pertama, untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan organisasi telah tercapai. Kedua, untuk memberikan sarana pembelajaran bagi pegawai agar bisa memperbaiki kinerja mereka di masa depan. Ketiga, pengukuran ini juga memberikan panduan yang sistematis untuk membuat keputusan, memberikan penghargaan, atau memberikan hukuman dalam organisasi. Keempat, tujuannya adalah untuk memotivasi pegawai agar bekerja lebih baik. Terakhir, dengan pengukuran kinerja, kita menciptakan akuntabilitas publik yang meningkatkan transparansi dan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi.
Pengukuran kinerja memerlukan ketelitian dalam beberapa hal. Pertama, haruslah spesifik dan jelas agar tidak disalahartikan. Kedua, bisa diukur dengan data yang objektif baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Ketiga, harus mencakup aspek yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. Keempat, hasilnya harus penting dan berguna untuk menunjukkan keberhasilan input, output, outcome, manfaat, dampak, dan proses. Kelima, harus fleksibel terhadap perubahan yang terjadi. Terakhir, harus efektif dalam pengadaan, pengolahan, dan analisis data agar sesuai dengan biaya yang tersedia.
Indikator kinerja adalah cara untuk mengukur seberapa baik sesuatu berjalan atau berhasil. Misalnya, ada beberapa jenis indikator, seperti yang mengukur apa yang dimasukkan ke dalam suatu proses (input), apa yang dihasilkan (output), apa dampaknya (outcome), manfaatnya (benefit), dan akhirnya, efek besar jangka panjangnya (impact). Jadi, indikator kinerja ini membantu kita melihat apakah suatu program atau kegiatan berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang diinginkan.
Proses pengukuran kinerja adalah langkah-langkah untuk melihat seberapa baik perusahaan melakukan pekerjaannya. Langkah pertama adalah mendefinisikan misi, tujuan, sasaran, dan strategi perusahaan. Kemudian, perusahaan menetapkan dan mengembangkan indikator, yaitu alat untuk mengukur seberapa baik mereka mencapai tujuan tersebut. Setelah itu, mereka melakukan pengukuran kinerja menggunakan indikator yang telah ditetapkan, dan menilai hasilnya. Langkah terakhir adalah melaporkan hasil-hasil ini secara resmi kepada pihak terkait.
Model-model seperti Balance Scorecard, Human Resource Scorecard, Integrated Performance Measurement System (IPMS), Performance Prism, dan Supply Chain Management Model, bisa digunakan untuk mengukur kinerja organisasi. Pemilihan model yang tepat harus disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi spesifik organisasi untuk mendapatkan pengukuran kinerja yang efektif.
Dari penjelasan yang telah disajikan, dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja membantu perusahaan menilai efektivitas dan efisiensi tindakan mereka, mencapai tujuan organisasi, meningkatkan kinerja pegawai, dan membuat keputusan berbasis data, sambil memastikan fleksibilitas dan akuntabilitas. Model-model seperti Balance Scorecard dan IPMS dapat digunakan untuk mengukur kinerja, disesuaikan dengan kebutuhan spesifik organisasi.
Sebagai contoh, berdasarkan studi kasus PT. Retailindo Jaya, perusahaan retail, belum pernah mengukur seberapa baik bisnis mereka berjalan. Karena itu, mereka membutuhkan cara untuk melihat kinerja perusahaan. Saat pasar berubah, mereka perlu strategi untuk tetap bersaing. Model Balanced Scorecard adalah cara untuk mengukur semua aspek bisnis mereka, seperti keuangan, kepuasan konsumen, proses internal, dan kemajuan perusahaan itu sendiri. Dengan ini, mereka bisa tahu seberapa baik perusahaan mereka berjalan dari segi finansial, kepuasan pelanggan, proses internal, dan pengembangan perusahaan.
Lalu ada PDAM Tirta Moedal Semarang, perusahaan yang bertanggung jawab menyediakan air bersih bagi masyarakat dan perusahaan di kota Semarang. Mereka juga diharapkan bisa memberikan tambahan pendapatan untuk daerah. Namun, sebelumnya PDAM ini tidak memiliki cara yang jelas untuk mengukur seberapa baik kinerjanya. Maka, dilakukanlah penelitian untuk merancang sistem pengukuran kinerja menggunakan model Performance Prism. Dari hasil implementasi model ini, PDAM Tirta Moedal mencapai indikator kinerja saat ini sebesar 75,1%. Hasil ini menjadi dasar bagi manajemen untuk mengevaluasi dan membuat rencana perbaikan agar semua harapan dari berbagai pihak dapat terpenuhi.
PT. Sejahtera Panca Jaya adalah perusahaan yang vulkanisir ban. Mereka memiliki masalah mencapai target produksi dan mengelola keuangan. Karena itu, mereka ingin menggunakan sistem pengukuran kinerja terintegrasi (IMPS) untuk memperbaiki performa mereka. Dengan IMPS, perusahaan akan mengidentifikasi kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholder) dan mengevaluasi 16 indikator kinerja (KPI). Dari situ, 4 KPI utama akan dipilih untuk diberikan saran perbaikan. Harapannya, langkah ini akan meningkatkan performa perusahaan ke depannya.
Referensi:
Drucker, P.F. 1999. Manajemen: Tugas, Tanggung Jawab dan Praktek. Jakarta: Gramedia.
Mulyadi. 2005. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
Widodo, Joko. 2006. Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja. Jakarta: Bayumedai Publishing.
Mangkunegara, A.P. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Prawirosentono, Suyadi. 1999. Manajemen sumber Daya Manusia (Kebijakan Kinerja Karyawan), Kiat membangun Organisasi Kompetitif menjelang Perdagangan Bebas Dunia. Yogyakarta: BPFE.
Hansen & Mowen. 2004. Manajemen Biaya. Jakarta: Salemba Empat.
Mahmudi. 2010. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP STIMYKPN.
Yuwono, Sony. dkk. 2007. Petunjuk Praktis Penyusunan Balanced Scorecard. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutia, Nila. 2009. Tesis: Usulan Rancangan Indikator Pengukuran Kinerja Service Scorecard untuk Kualitas Jasa pada Diklat Pelayaran. Jakarta: Universitas Indonesia.
Vanany, Iwan. 2003. Aplikasi Analytic Network Process (ANP) Pada Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja (Studi Kasus pada PT.X). Jurnal teknik Industri Vol.5.
Yasmine, Fathia. Bachtiar, Iyan & Nana Asep. 2017. Pengukuran Kinerja Perusahaan Menggunakan Metode Balanced Scorecard (Studi Kasus pada PT. Retailindo). Jurnal teknik Industri Vol.3.
https://www.academia.edu/18373350/Pengukuran_kinerja
Komentar
Posting Komentar